Showing posts with label Conscience. Show all posts
Showing posts with label Conscience. Show all posts

Thursday, 6 October 2016

Surat Pengantar

images-3
Katakanlah ini untukmu yang jiwanya terbelenggu...
Hanya ada satu penenangmu,
karena hanya dia yg ada dan tiada...
Yang mengasihimu,
dan yang menyayangimu...
Segala puji bagi dia, penguasa semesta alam,
karena hanya dia yang sempurna,
dan sesempurna apa pun dirimu,
takkan pernah terjadi persamaan antara kau dan dia...
Dia memberimu keutamaan tentang segala hidup,
dan dia lah sang penyayang sejatimu,
karena jiwamu tak di pandang pandang untuk disayang sayang,
walau pun dirimu kadang mendoktrin itu semua sebagai ujian...
Hanya kepadanyalah kita kembali pulang,
sekarang dan suatu hari nanti, kemudian jika jiwa mu memang mendengarnya, maka sesungguhnya dia telah memintamu untuk segera kembali...
Kemudian jika kau masih bertanya untuk apa kita hidup ,
maka jawabannya yaitu untuk mencarinya,
Yang Esa,
Yang ada dan tiada...
Kemudian jika kau masih tak percaya,
maka pintalah petunjuknya, dan jangan pernah sekali pun mengingkarinya...
Mintalah petunjuknya akan jalan yg lurus walau sekarang atau saat ini jiwamu masih saja meragukannya...
Yaitu sebuah hidup (jalan) seperti orang orang yang sudah begitu nikmat menemukannya,
bukan (hidup) jalan yang tak pernah habis kau temui masalah dan masalah....

Copas dari sang mantan

edit-j
Kisah mengharukan dari seorang rekanku yang dapat menginspirasikan orang banyak. Dimana, dalam detik-detik surat terakhir tersebut, tersirat makna tersembunyi dalam bait-baitnya. Dari Sang Mantan kepada seorang Gadis yang pernah di pujanya yang mana akan melangsungkan sebuah pernikahan.
Moscow, 25 January 2007

Dear,
Hi, Raisya? Semoga kamu baik-baik saja disana…
Sehelai benang kusut bagaikan angin topan yang menerjang dataran bumi. Aku tahu...Sebentar lagi, bahwa sepucuk kebahagian akan menghiasi sepanjang hidupmu. Dimana kedua insan saling bertemu, menepati janji, dan akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Aku curahkan waktuku sebentar, demi menulis beberapa bait kata-kata terakhir yang menggores pikiranku, walaupun akhirnya engkau mungkin akan membuangnya ataukah menyimpannya dalam kurun waktu yang cukup lama. Tapi, aku berharap kamu mau membacanya, hingga kamu akan tahu seluruh isi hatiku yang sebenarnya.
Jarak dan derajat telah memisahkan kita dalam jangkauan cakrawala. Namun, dibalik itu semua? Aku menyadari siapa diriku? Dan hingga saat ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa, dimana aku hanya berjalan melewati rutinitas dengan segudang buku yang menumpuk.
* Masih ingatkah engkau tentang kejadian saat itu? Ketika orang lain memberikan cincin berkilauan cahaya kepada Sang Pacar di hari ulang tahunnya. Namun, aku hanya mampu memberikan sebuah cincin berbatu Akik untukmu. Mungkin sejenak kamu berpikir, tentang semua kegilaan ini kepadaku..., hingga dirimu merasa dipermalukan oleh sikapku dengan para sahabatmu. Iya, aku sadar? Aku memang tak mampu memberikan barang yang berharga untukmu saat ini.
* Masih ingatkah engkau? Ketika orang lain memberikan setangkai bunga mawar kepada Sang Pacarnya. Malah aku memberikan setangkai bunga petai untukmu. Iya, itu mungkin sebuah ingatan menyakitkan dalam bayanganmu hingga saat ini. Dimana terkadang aku selalu berpikir sejenak tentang hubungan kita berdua? Mungkin aku bukanlah sesosok lelaki yang begitu paham tentang keromantisan cinta. Namun, aku selalu belajar dari kesalahan tersebut untuk menjadi yang terbaik.
* Dan terakhir, masih ingatkah engkau? Ketika orang lain menjajankan Sang Pacarnya ke gedung-gedung bertingkat. Namun, aku hanya mampu menjajankanmu di kios yang tergeletak dijalanan. Iya, itu pasti sebuah ingatan yang akan selalu membasahi wajah berserimu. Hingga terkadang batinku ini merasakan, bahwa kamu akan selalu mendapat gunjingan para sahabat berkelasmu dan Ibu kandungmu yang selalu meremehkan tentang ekonomiku.
Namun ingatlah, di balik itu semua adalah sebuah proses dalam hidup, dimana kala orang bisa di depan dan bisa juga di belakang. Engkau akan mengerti, suatu saat nanti.
Sincerely,
Setelah tujuh tahun berlalu, Raisya telah dianugerahi seorang anak perempuan. Dimana saat itu, pernikahannya sedang di ambang kehancuran karena perselingkuhan Sang Suami. Dan dimana suatu hari hidupnya seakan menggelantung hebat di jalanan setelah dia mengalami perceraian, apalagi dia juga harus terlibat sejumlah pembayaran utang piutang Ibunya. Tapi dibalik keras kehidupannya di kota metropolitan seolah tak membuatnya patah semangat untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang layak, tapi tak satupun yang mau menerimanya, meskipun dia menyandang lulusan perguruan tinggi. Suatu ketika, sebuah kesempatan terakhir dia curahkan untuk melamar pekerjaan lagi di sebuah perusahaan yang sedang naik daun. Namun, dia tak menyangka perusahaan tersebut mau menerimanya, dan memberikan kedudukan yang empuk untuk menghidupi keluarganya.
Enam bulan kemudian, Raisya seakan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri? Mengapa perusahaan ini sangat baik kepadanya walaupun dia masih tergolong muda, bahkan secara mengejutkan dihari itu dia diberikan jabatan yang tinggi. Dimana, rasa keingintahuannya muncul tentang semua itu. Namun hatinya bergetar ketika mengetahui bahwa pemilik perusahaan tersebut adalah Sang Mantannya yang pernah dia abaikan begitu saja. Raisya memberanikan diri untuk membuka surat terakhir dari Sang Mantannya. Dimana deras genangan air mata dari sekujur pipinya, hingga tak bisa dibendung lagi ketika memahami makna surat tersebut yang mencerminkan perjuangan hidup Adam di negeri beruang merah untuk dirinya semata. Semoga bisa menghibur dan memberi pelajaran berarti dalam kehidupan manusia. # Salam Penulis.

Menanam pohon di ibukota

images
Seorang anak bertanya kepada Ayahnya,
"Apa yang harus kita lakukan Ayah, untuk menjaga ibukota kita yang tercinta ini?"
Si Ayah menjawab,
"Menanam pohon nak, agar sejuk, juga agar kita bisa berinvestasi alamiah."
Si anak bertanya lagi,
"Lantas bagaimana caranya? Sementara di ibukota kita ini sudah tak ada tanah lapang lagi, semuanya padat dengan hunian karena laju populasinya pesat, lagi pula nanti aku bisa di tertawakan? Yang mengerti akan pentingnya menanam pohon itu kan hanya minoritas?"
Si Ayah terdiam beberapa saat, keringat mengalir deras, tak lama bola lampu pun menyala di dekatnya, tringg tringg tringgg.
Lantas si Ayah menjawab,"Mungkin kita bisa mengadakan kerjasama bilateral dengan korea utara untuk menyediakan lahan uji coba nuklir di rumah kita."
"Apa? zzzzzztttt, Kabuuuur...."

Sembahlah Tuhan, Jangan Sembah Aku

images
Masih ku buat lelucon,
sejujurnya air mataku habis menangisi diri sendiri...
Apalah arti sebuah tulisan,
tanpa menulisnya,
tanpa merisetnya,
dan tanpa memahami maksud dari tulisan tersebut...
Kemudian aku kan berkata jika itu Karya Tuhan,
memang seharusnya demikian,
ku rasa,
dan ku pikir...
Karena semua laku itu memang adalah nikmat dari kuasanya...
Apakah aku harus berbohong ?
Sebab saat menulis aku butuh hasrat,
aku butuh media,
aku butuh alat,
aku butuh ide,
dan lain-lain...
Demikian mudahnya dia memberikan itu semua...
Tak terbayang jika aku harus menjadi ikan di laut,
dan tak terbayang jika aku harus menjadi cacing di dalam perut...
Maha Suci Tuhanku,
dan kepada ialah sejagad alam raya bertasbih....

Aku Manusia Bukan Kera

unduhan
Aku adalah manusia,
aku bukanlah kera,
yang kosong,
yang hanya lahir,
tumbuh,
mencari makan,
bereproduksi,
lalu mati menjadi bangkai...
Apakah harus sama ?
Dan aku tak mau di samakan...
Dan aku pun terus liar di dalam pertanyaanku,
mencari yang tak ada padaku ,
mencari yang tak ada pada keluargaku di rumah ,
dan mencari yang tak ada pada lingkungan dimana aku biasa hidup...
Cukup mencengangkan memang,
dan aku mendapatinya...
Yang tak ada,
yang tak ada,
dan yang tak ada ialah Tuhan...
Yang membedakan manusia bebas dan manusia bermasalah...
Mungkin ini bukan berarti pertemuan pertamaku,
sebab aku , keluargaku, dan orang orang disekelilingku sering mengucapkannya lantang dalam mulut,
tetapi tak pernah sekali pun aku menemukannya...
Kemudian,
yang tak ada,
yang tak ada,
dan yang tak ada itu ialah shalat...
Karna pada saat itulah aku bertemu dengannya,
di dalam arti bacaan bacaannya,
dan di dalam diri sang manusia...
Namun bukan berarti mudah,
karna setelah itu aku di antar oleh rekayasa khidir kepada ujian ujian tentang iman sesungguhnya...
Karena setelah shalat adalah kenyataan dan kenyataan pahit yang seolah berkata ,
"Lu tuh emang ga bisa sabar hey manusia!"
Namun ku yakin kan ada jawaban,
namun ku yakin kan ada jawaban,
namun ku yakin kan ada jawaban...
Karena aku manusia, bukan kera....

Atas nama manusia

images-2
Bukan cuma teriak,
tapi memenangkan dan menenangkan...
Bukan cuma kuat,
tapi juga punya otak dan tahu ilmu hidup...
Atas nama manusia!
Bukan seperti karang yang cuma bisa keras doang...
Tapi seperti bakau...
menyejukan,
memberi oksigen,
memberi tempat bernaung buat ikan ikan kecil di antara akar,
dan tetap tegar walau di hantam ribuan ombak....
800x600